Perempuan di sekitar kita…
Oleh : RedRebel Zine
Kita sering mengagung-agungkan dan meneriakan tentang kesetaraan,equality, persamaan, all human being are equal bla…bla…bla… Tapi aku ajak lagi SEMUA untuk mengingat kembali… Ajakan ini untuk semua, perempuan dan laki2…
Apakah bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan yang mengambil keputusan dengan keputusan dari sang pacar?!? Contohnya “Elo minta izin dulu dong ke gw kalo mao pergi sama temen2 elo”, alih2 ‘kekhawatiran’ dari sang pacar…
Apakah bisa disebut kesetaraan jika masih banyak cowok yang menuntut sang pacar untuk bersikap seperti apa yang diinginkannya?, misalnya “Elo jangan pake baju yang kaya gini lagi ah, mulai besok gw gak mao lagi liat elo pake paju kaya gini ya”, alih2 ‘rasa sayang’ dari sang pacar…
Apakah bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan tidak boleh pergi atau melakukan sesuatu tanpa kesepakatan dari sang pacar?, misalnya “Gw gak ikutan kereuni yah, soalnya gak dizinin sama cowok gw, nanti dia marah”, alih2 ‘takut mengecewakan’ sang pacar…
Apakah bisa disebut kesetaraan jika selalu keputusan salah satu pihak saja dalam mengambil keputusan, bahkan hal sekecil apapun, misalnya “Malam ini kita nonton.”, “Besok elo temenin aku kerumah Dudung.”, “Ambil yang merah aja.”, dan keputusan2 yang tidak boleh digubris lainnya…
Apakah bisa disebut kesetaraan jika perempuan masih saja maunya diboncengin melulu ketika naik motor, atau duduk disebelah setir ketika naik mobil, atau digandeng ketika menyebrang jalan, atau minta dibawakan tas atau ranselnya ketika naik gunung…
Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan diragukan kemampuannya dalam melakukan sesuatu, misalnya “diskusi dan berdebat itu ‘a man’s thing” atau “Mana bisa lo baca buku setebel ini?” atau “Gak osah ikutan hiking deh lo, entar lecet lagi kakinya…”
Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih saja perempuan diidentikan dengan urusan rumah tangga, misalnya “Eh masak dong, elo kan cewe” atau “Nyapu dong, kan elo cewe”…
Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan menganggap dirinya sebagai perempuan yang ‘CANTIK’ dan ‘IDEAL’ dengan memakai parameter fisik (wajah, payudara besar, kulit putih, kurus langsing,dll) untuk sebuah pembuktian…
Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan yang dilarang pulang malam dan kemudian dicap ‘perempuan gak benar’ oleh keluarga dan lingkungannya? Misalnya “Eh udah kemaleman nih, elo kan cewe, jangan pulang kemaleman deh. Besok kita kabarin hasil diskusinya ya”. Alih-alih pulang malam berbahaya buat perempuan…
Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak tubuh perempuan dijadikan objek lelucon dan objek obrolan yang ‘panas’ dalam sebuah perbincangan yang seru…
Apakah masih bisa disebut kesetaraan jika masih banyak perempuan menyerahkan, menyalahkan, dan tidak mau melawan segala yang terjadi pada dirinya atas nama takdir…
Aku mempertanyakan kembali pada diriku dan kalian semua, mempertanyakan mengenai kesetaraan… equality…?!?
Cheers…
12 Responses to Perempuan di sekitar kita…
Leave a Reply Cancel reply
-
Articles
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- October 2011
- June 2011
- April 2011
- July 2010
- June 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- June 2008
- May 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- April 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- September 2006
- August 2006
- July 2006
- June 2006
- May 2006
- February 2006
- December 2005
- November 2005
- October 2005
- September 2005
- July 2005
- June 2005
- May 2005
- April 2005
- March 2005
-
Meta





ah.. rieut sugan!
karena gw yakin yang bikin artikel ini laki-laki..rada2 berlebihan sih, tapi sayang sekali itulah kenyataan yang ada, dan kalo boleh gw bilang sih kurang ajar kalo sampe kita diatur2 ama orang lain (yg namanya pacar kan masih orang lain!), kalo misalnya ada yang senang diperlakukan begitu (misalnya si cowo seneng disuruh apa aja), itu artinya dia itu babu.. hahaha.. sama saja kaya budak zaman kolonial, dan tentang kerja bakti seperti nyapu, ngepel, masak, apa salahnya sih dilakukan bareng2, baik cewe ama cowo bareng2, pasti nambah kemesraan, alih2 bilang..”heh..lo cewe bukannya harus nyapu..kerjain dong!”, bangsaaat.. padahal banyak sekali kepala keluarga pengangguran, dalam arti lain, belum tentu cowo bisa jadi kepala keluarga yang baik kan? Gw heran kok yang kayak ginian dibahas sih? kayak acara teenlit TV aja. Kalo masyarakat kita masih nyamain cewe pulang malem adalah pecun.. itu artinya masyarakat indonesia kurang ajar, masa menteri Meutia Hatta boleh kesana-kesini sesuka hati, baik pagi, malem, siang, or whatever bullshit, ngerjain laporan demi tugas negara (katanya!), seolah-olah perempuan yang baik itu adalah perempuan yang memiliki jabatan tinggi, hingga boleh berleha2 dimanapun berada, ironis memang.. karena sejauh penilaian gw memang ada kesetaraan antara pria dan wanita masa kini, yaitu.. siapa yang paling baik dipandang adalah yang paling tinggi “pangkatnya”, atau boleh juga gini.. kalo mau jadi anak punk yang paling keren harus jeprut otaknya.. semakin gila dia, semakin terkenal dia.. semakin tukang mabok semakin dibicarakanlah dia.. haduh, omongkosong apalagi sih? sampe2 soal cinta pun begitu, semakin ngatur2 adalah pembuktian bahwa dirinya begituuu cayaaang (begitu juga sebaliknya yang diatur), itu atur2 pembodohan namanya, cari binasa aja sih, kayak romeo-juliet itu harus jadi panutan aja, mungkin tuhan mereka itulah Romeo-Juliet.
PRO iya, KONTRA juga iya…
Perempuan memang begitulah adanya, dibuat untuk mendamping para lelaki (yang saya tahu sampai saat ini). Perempuan juga berhak bebas dan mandiri, tetapi sebagai perempuan yang berakal budi serta memiliki kebijaksanaan, maka sudah seharusnya ia berlaku sepantasnya (bertingkah laku baik). Pada zaman emansipasi wanita seperti ini, pernah saya jumpai, perempuan yang gila akan kesetaraan gender, mereka meminta hak lebih banyak daripada kewajibannya tanpa sadar tentang apa yang telah dilakukannya.” Ternyata banyak sekali pendapat tentang eksistensi wanita di mata para lelaki entah itu secara adat maupun agama.
Agama mengatakan bahwa Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam
Biologi menyatakan bahwa sel jantan yang membuahi sel betina.
Jadi menurut saya, “Dari Zaman dahulu , sekarang hingga masa depan memang tidak akan pernah ada kesetaraan gender antara pria dan wanita. Namun laki-lakilah yang harus menghormati perempuan, agar mereka merasa dihargai.
Sebab mereka itu “cantik.”
enggaaaaaaaaaakkkkkkkk….nggaik equal ma sekali…….
sepertinya,udah mendarh daging yang begituannn….ga trima….
ehhhh,,salah ding..
bis ga pernah digituin….
jadi bagiQ masih tetep equal…..
@ran : kayaknya yang nulis tulisan diatas bukan laki-laki deh…moga aja yang empunya tulisan bisa respons..hehehe
Orang kadang terlalu paranoid kalo dengar kata ‘kesetaraan’, akan langsung menghubungkannya dengan gender/perempuan, tapi lain halnya kalo denger kata equality, akan menghubungkannya dengan persamaan hak/kemanusiaan…
Kenapa gw kasih contoh cinta2an (uhuiii…) or masalah dapur , coba kamu lihat saja sendiri, realitas seperti itu kan yang masih terjadi di sekitar kita, jadi gak osah gw membicarakan yang jauh2 (seperti kekerasan TKW, pembunuhan anak perempuan akibat kebijakan negara or akibat budaya, hak2 Pembantu Rumah Tangga, kekerasan dalam rumah tangga, dll), kita liat aja dulu dari hal yang terjadi sehari2 disekitar kita. Jangan membicarakan hal2 besar kalo hal ‘kecil’ saja belum tuntas.
Dan lagi2 seperti biasa gw menemukan pembenaran “udah dari sononya”, udah kodrat, agama, de el el… yang buat gw gak logis karena tidak disertai dengan penjelasan atas pembenaran2 tersebut… Ini semua kan (pencitraan or image) sudah terbentuk sangat lama, kemudian menjelama menjadi semacam ‘aturan’ tidak tertulis, dengan cara menghakimi perempuan dengan pencitraan2 or angapan2 seperti ini. Tanpa kita sadari kita terjebak dalam ‘aturan’ itu. Produk siapa itu?!? Aturan siapa itu!?! Warisan dari mana itu?!? Siapa yang masih menjalankan?!?
Sekali lagi gw cuma mau mengingatkan, mengajak refleksi buat perempuan dan laki2, yang mungkin masih terjebak dalam ‘aturan’ seperti ini… Dan kalo kawan2 menganggap bahasan ini gak penting, hmmmm….
So… ayolah kawan… (ayo apa hayo…?!?) hehehehehe…
“We’re not asking to be treated SPECIAL
“We’re not going to take a certai AUTHORITY
“We just want to be treated equal as other HUMAN BEING & walk together side by side…
nah.. itulah maksudnya.. walk together side by side, apa susahnya sih? mungkin masalah itu datang karena sifat manusia kebanyakan selalu menganggap orang lain tidak cukup berarti bagi orang lainnya. hingga kita harus perfect lah, nurut lah, padahal belom tentu kita mau melaksanakannya.
apa yang orang lain inginkan belom berarti pas bagi lainnya. enjoy aja lah.. ngapain di pusingin, nambah bt aja sih. kita semua memiliki urusan masing2, mencari jati diri masing2 pula.so.. buat apa aturan orang jadi beban buat kita? kita masih punya akal dan pikiran, masing2 memiliki itu semua.
gw ngerti kok banyak dari kita2 ini selalu berhadapan dengan orang2 yang bodoh intelek, itu bukan salah mereka.. tapi kita selalu acuh tak acuh.
adapun yang peduli, tapi kebanyakan hanya melalui pendekatan formal yg notabene bikin ABG (anak bocah gokil!) ngantuk aja, so fucking bore and well…u know, kind that stuff such make you stupid and moron!
by the way.. gw makin salut aja nih ama anarchoi, kita gak perlu tau apakah yg membuat artikel itu cewe or cowo, yang penting semua ingin mencapai kesejahteraan untuk bersama2 membangun bangsa ini. Bangsa kita porak poranda! Bangun lah! BANGUN!
gunakan kreatifitas kita sebaik mungkin! mumpung kita masih punya banyak kesempatan! ngapain mikirin pacar ngelarang2 ini tiu padahal di sisi lain bentrok dengan keinginan kita, pakah mereka yang melahirkan kita? apakah pacar kita yang memberi kita akal dan pikiran? apakah pacar kita membuat kita bisa berjalan ketika masih bayi? so fuck up with their rule! we have own!
tapi kadang ada gunanya kalo orang mengkritik orang lain demi kebaikan masing2. Contohnya.. si Mona (monyet nakal) gadis gendut bau ketek.. hobinya pake tank top..walhasil bau ketek kemana2. Saban malem minggu nongkrong di trotoar antah berantah sambil mulut bau alkohol maen fitnah orang banyak.. kalo mabok kagak rese sih ok2 aja, tapi gimana misalnya dia adalah pacar kamu (misalnyaaaa) dan bikin bt banyak orang. gw yakin kok meski kamu berpaham kebebasan or freedom2 lain yg bikin kamu nyaman, pasti berontak dengan imej2 itu! dan disitulah kita memang seharusnya menasihati, menegur, or apa lah terserah. masa orang yang kita sayangi (termasuk adik, kakak, keluarga, sodara2, sahabat, pokoknyee yg lo kenal dekat!) dibiarin binasakan dirinya, itu kan kurang ajar! kalo dia gak mau denger?? ya.. itu sih masalah dia.. binasa dia.. dia sedang membinasakan dirinya sendiri dalam absurditas.
dan gimana kalo orang nasehatin kita? disitulah kita berkomunikasi perasaan. itu ada! sekali lagi..perasaan bagi tiap orang itu ada. semua membutuhkan hati. dan kita harus belajar menghargai pendapat orang karena apa yang kita pandang baik belum tentu baik buat diri kita. pendapat atau nasehat orang lain itu berguna karena penilaian terbaik buat diri kita itu datang dari masyarakat atau lingkungan sekitar. Dari mereka datang kejujuran. Tapi kalo sampe kita gak boleh pake baju ini itu, or gak boleh berkreatifitas seperti biasanya..waaah.. itu udah dajjal nanmanya, yang bisanya bikin orang terpuruk oleh hidup, padahal “udara segar masih bisa kita hirup”. akal dan pikiran kita itu milik kita sendiri bukan milik siapa2 lagi.
sebenarnya arti equaltiy itu gak susah2 amat sih. Kita imbangi aja ama hak dan kewajiban, seperti yang saudara CHADEX bilang bahwa zaman ini banyak wanita lebih meminta hak2nya melebihi wajib2nya. Equality itu sudah jelas2 persamaan. Enggak usah jauh2 mikirin hak2 asasi manusia sampe demo2 lah padahal diri sendiri belum tentu melaksankan kewajibannya sebagai manusia.
Nah.. sekarang gw balik nanya.. apa sih hak dan kewajiban manusia yang sebenarnya?
hak dan kewajiban manusia….hmmm..apa yah…mungkin gak jauh beda sama hak dan kewajiban makhluk hidup lainnya, karena mereka dan kita hidup…maka haknya untuk mendapatkan “kelayakan” hidup, dan kewajibannya adalah menjalankan kehidupan dengan “sebaik-baiknya”…mengenai layak dan baik…mungkin hal tersebut bisa bebas diartikan bagaimanapun juga oleh siapa aja. Tapi tentu saja…orang lain disekeliling kitalah yang akan “menilai” apa dan bagaimana kita dinilai “layak” dan “baik”…tapi gak pasti juga lho penilaian orang lain tepat…tentu saja…karena mereka gak memiliki “standar” yang sama satu sama lain. gimana coba jadinya??? hehehe??
jadinya….
semua manusia memiliki idealisme masing2. Itulah keunikan dari kita semua. Sayang sekali.. pikiran manusia terprogram untuk memilih ini dan itu, x dan y, hitam atau putih, kiri atau kanan (lurus deh), dan satu lagi yang paling banyak melahirkan tragedi sejarah peperangan dari peradaban umat manusia…baik dan jahat.
anjrit !!
lieur anjing aing…
Salut lah buat kamu!