ILUSI CHÁVIZMO – PERJUANGAN KELAS DI VENEZUELA
Ribuan orang menggelar aksi damai di Wina, ibukota Austria pada tanggal 14 Mei 2006 lalu. Dengan membawa bendera merah serta bendera nasional Venezuela dan Kuba, mereka berharap dapat melihat presiden Bolivia, Evo Morales dan presiden Venezuela, Hugo Chávez. Aksi ini merupakan sebuah bentuk dukungan bagi para pemimpin negara latin tersebut, yang juga berafiliasi ketat dengan pemimpin Kuba, Fidel Castro. Alasan lain dari dukungan mereka, adalah karena baik Bolivia, Venezuela dan Kuba kini telah bergabung dalam kesepakatan perdagangan alternatif yang mereka ciptakan sendiri, yang menjanjikan versi sosialistik daripada kerjasama perdagangan neoliberalisme yang dimotori oleh AS dan Uni Eropa.
Tidak hanya di Austria, sebagian besar dari kita di Indonesia—khususnya para militan Kiri—pasti berpikir bahwa rezim Chávez di Venezuela adalah sebuah konfirmasi atas analisa Marxis terbaik di era kapitalisme yang sangat advance sekarang ini. Terlebih lagi setelah kegagalan kudeta militer sayap kanan yang disponsori CIA pada tahun 2002 lalu, yang seakan membuktikan bahwa seluruh jajaran publik mendukung Chávez. Perusahaan-perusahaan multinasional memang direbut oleh negara satu persatu, yang menandakan bahwa ini adalah sebuah kemajuan terbaik masa kini. Tapi pada kenyataannya, rezim ini masih membutuhkan kritik yang juga lebih advance semenjak ia masih kurang dalam mendorong publik untuk mulai membentuk organisasi swakelolanya sendiri yang otonom. Pidato-pidato Chávez mungkin memang sangat baik dalam membangun kesadaran di tingkatan publik, tapi ini tak akan berarti apa-apa apabila publik sendiri tidak memiliki organisasi otonom mereka sendiri. Kesadaran yang tidak menemui ekspresi materialnya dalam bentuk yang lebih terorganisir tak akan berarti apa-apa.
Bahkan juga ada sebuah kabut menyelimuti jajaran pemerintahan itu sendiri antara para kabinet menteri yang berhaluan Kiri maupun Kanan. Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Ekonomi, Menteri Hankam semua adalah orang-orang dari pihak Kanan, termasuk juga menteri kesehatan. Menteri Tenaga Kerja berdiri di tengah-tengah. Masih ada dua atau tiga menteri yang berhaluan Kiri seperti Menteri Ekonomi dan Industri, tetapi mayoritas kabinet berpihak di Kanan—bukan Kanan pro-neoliberal tapi Kanan nasionalis yang tetap berada di Kanan. Chávez menyandarkan dirinya kadang ke Kiri dan kadang pada sektor militer di Kanan. Hal ini menciptakan sebuah pemerintahan yang mirip dengan Bonapartisme Marx, sebuah balance of power, penengah dan penyeimbang antara dua kekuatan yang berbeda. Mengutip apa yang dikatakan oleh Roland Denis yang aktif dalam Movimiento 13 de Abril Comuneros (Komune Gerakan 13 April), “Aku tidak tahu pasti apakah Hugo Chávez akan mempertahankan politik Kiri-nya. Ini semua dapat berubah. Aku telah melakukan diskusi dengan Eric Toussaint, dan kami menemukan sebuah kesamaan perilaku antara Kuba dan Venezuela saat diadakan pertemuan WTO di Hongkong. Venezuela mengambil posisi prinsipil yang beroposisi pada seluruh agenda privatisasi layanan publik, kesehatan, pendidikan, dsb. Tapi pada akhirnya Kuba dan Venezuela juga menandatangani persetujuan.” (International Socialism no.101, Januari 2006).
Chávez memang berhasil dalam membangun wacana di kalangan publik, tapi masalahnya ia juga masih terjebak dalam konteks logika nasionalisme yang memposisikan negara sebagai sebuah bagian yang sakral dari prakteknya. Wacana mereka memang mirip dengan wacana pembebasan, tapi tentu saja dengan demikian praktek yang terjadi tidak akan sama dengan praktek pembebasan. Mereka berusaha menginkorporasikan berbagai sektor gerakan popular ke dalam pemerintahan, mengikatnya erat. Wacana ini juga yang seringkali menjadi ilusi dan jebakan dari sebuah pembebasan: wacana program popular yang memfokuskan diri pada nasionalisme, bukannya kelas.
Perjuangan kelas memang terjadi di Venezuela, tetapi revolusi belum berhasil dimenangkan. Sebuah dunia baru mungkin memang terjadi di Venezuela, tapi itu baru hanya sebuah kemungkinan yang perlu terus dijajaki.
Apa yang perlu juga dijajaki adalah tentang bagaimana nyaris seluruh gerakan militan masa kini masih terilusi oleh ‘keberhasilan’ revolusi tipe Bolshevik. Waktu telah berlalu sejak Lenin dan kegagalannya, yang dilanjutkan oleh degradasi Leninisme yang diekspresikan oleh para militan Kiri yang saling beraliansi dan bertempur antara sesamanya sendiri dari berbagai macam variannya—Khrushchevo-Brezhnevis, Tan Malakais, Maois, Sukarnois, Castrois, sub-Togliatis, Stalinis dan semi-Stalinis serta berbagai sisi Trotskisme, dsb. Semua dari mereka menolak dan dipaksa menolak, wajah yang jelas dari ‘sosialisme’ (dengan kata lain: kekuatan kelas) di Russia, China, Kuba dan konsekwensinya, Venezuela. Kelemahan utama mereka dalam perjuangan dalam perebutan kekuasaan negara adalah juga garansi utama untuk transformasi peran menjadi kontra-revolusioner setiap saat dari mereka mendapatkan kekuasaan absolut. Para militan Kiri tersebut akan menghadirkan dirinya sebagai sebuah kelanjutan alamiah dari kemelut politik perjuangan kelas; tapi perjuangan kelas yang nyata di Venezuela telah semakin dekat.
Pusat perjuangan, baik yang tercadar maupun yang terbuka, sedikit demi sedikit mulai pecah antar para representatif kelas penguasa baru dan para pekerja yang berjuang atas isu swakelola. Para Chávista menyadari penuh hal ini, sehingga mereka berusaha merebut kembali akar rumput dengan menggunakan bahasa-bahasa radikal, berorasi tentang “kekuatan popular”, “parlementer di jalanan” (dimana para elit datang ke jalan-jalan dan mendengarkan berbagai keluhan publik). Dalam hal ini kecenderungan tentang pemerintahan yang lebih baik, lebih sehat, lebih mendorong partisipasi, memang ada. Tetapi secara keseluruhan, yang dibutuhkan adalah inisiatif untuk sebuah gerakan pembebasan yang nyata yang tak dapat diperlambat hanya dengan dikuasainya sebuah negara. Para Chavista tersebut memang tidak berbohong, tapi itu semua tidak cukup bagi kepentingan kelas pekerja.
Contoh kasus, pada akhir tahun 2005 dimana banyak pekerja tambang emas di selatan Venezuela berada dalam pusaran konflik melawan multinasional, 14 pekerja tambang telah terbunuh tapi hanya sedikit orang yang tahu tentang hal ini karena tak ada media yang memberitakannya termasuk media pemerintah. Bulan November 2005 terjadi pembunuhan oleh sicarios (preman yang dipersenjatai) dan paramiliter yang dibiayai serta dipersenjatai oleh multinasional sehingga terjadi konfrontasi yang sengit. Seluruh pekerja tambang adalah pendukung Chávez, terlihat dalam aksi mereka yang membawa foto Chávez saat mobilisasinya. Tetapi masalahnya belum ada sedikitpun tindakan dari negara.
Maka pihak oposisi yang kini berada di Venezuela mulai terbentuk babak keduanya. Di satu sisi, dilancarkan oleh para pendukung kebijakan neo-liberal dan kaum kaya raya yang pro-kudeta militer sayap Kanan tahun 2002 yang berusaha mengembalikan Venezuela pada bentuk lamanya. Di sisi lain, adalah para pekerja yang mempertahankan diri mereka dalam bentuk organisasi-organisasi otonom, melawan kaum neoliberal dan korporat sekaligus menentang kemandegan pemerintahan Chávez; merekalah yang menjadi kontestan utamanya. Seperti Movimiento 13 de Abril Comuneros—bukan sebuah partai politik—yang beranggotakan 1000-2000 orang pekerja dan penganggur ataupun serikat pekerja yang menduduki pabrik kertas di Invepal. Gerakan 13 April adalah organisasi pekerja dan penganggur yang beraktifitas di tempat-tempat kerja dan lingkungan ketetanggaan, mendiskusikan relasi kera dan pekerja, serta memiliki ide untuk membentuk sebuah gerakan pekerja popular. Sekelompok intelektual juga membantu pembentukan formasi ini tetapi organisasi ini tetap otonom. Sebagian proyek mereka adalah pendudukan pabrik. Mereka beraliansi dengan Chávez tapi secara taktis, bukan strategis. Mereka memang mempertahankan posisi Chávez dan menjadikannya simbol kekuatan, tapi mereka tetap menyimpan banyak keraguan terhadap absolutisme kekuatan presiden sebuah negara. Sementara, Invepal adalah pabrik kertas yang berjarak 100 mil dari Caracas, ibukota negara Venezuela. Para pekerja di sana telah mengambil alih pabrik secara penuh sejak akhir tahun 2004 dan memaksa negara untuk mendanai pengembangan hariannya. Profit yang ada dibagi antara 49% bagi para pekerja pabriknya sendiri dan 51% diserahkan untuk negara. Tidak puas dengan hal ini, para pekerja mendeklarasikan bahwa mereka menginginkan kepemilikan atas pabrik 100%, dimana dari profit tersebut, para pekerja sendirilah yang berhak menentukan kemana dana tersebut akan disalurkan untuk memperkuat arus revolusioner.
Jalan satu-satunya menuju masyarakat bebas, di Venezuela atau dimanapun juga, berjalan melewati “sebuah pakta ofensif dan defensif” sebagaimana seorang intelektual Hungaria kemukakan saat insureksi melanda negara Eropa Timur tersebut tahun 1956. Di negara tetangganya, Bolivia, Evo Morales memang melancarkan isu nasionalisasi tambang minyak bertepatan dengan perayaan May Day 1 Mei 2006 lalu, tapi kebanyakan mengesampingkan fakta bahwa keputusan tersebut dilakukan atas desakan organisasi-organisasi popular otonom yang merasa bahwa pemerintah Morales semenjak kemenangan atas pemilu tak sekalipun mendorong pada isu utama masyarakat Bolivia seperti pengambil alihan kontrol dari seluruh badan multinasional. Publik di Bolivia telah mengerti penuh soal peran yang harus mereka ambil. Begitu juga di Venezuela. Saat kondisi-kondisi revolusioner praksis merebak, tak ada satu teoripun yang dirasa terlalu sulit. Villiers de l’Isle-Adam, seorang saksi mata dari Komune Paris, mencatat, “Untuk pertama kalinya seseorang akan mendengar para pekerja bertukar opini tentang berbagai masalah yang selama ini hanya diperdebatkan oleh para filsuf.”
Realisasi filsafat, kritik dan rekonstruksi atas segala nilai, kebiasaan dan perilaku yang didorong oleh kehidupan yang teralienasi—adalah program utama dari swakelola umum. Para militan Kiri yang birokratis akan berkata bahwa tesis seperti di atas memang benar, tapi itu semua belum tiba waktunya untuk berbicara pada massa tentang segala-galanya. Tapi mereka yang melancarkan argumen tersebut tidak memperhatikan bahwa waktu tersebut telah tiba, dan mereka malah beroposisi menentang tibanya waktu tersebut, dengan alasan Leninis klasik, “Belum waktunya bagi massa untuk mengetahui semuanya.” Adalah penting untuk memberitahukan pada publik tentang apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Para intelektual spesialisasi revolusi adalah para spesialis dari kesadaran palsu, yang pada momen-momen revolusioner akan menyadari bahwa mereka telah membicarakan sesuatu yang berbeda dengan yang mereka lakukan. Alienasi politik adalah juga tetap alienasi. Dan swakelola tidak dapat berharap banyak dari cucu-cucu Bolshevik, baik yang terang-terangan mengaku Leninis maupun kaum Kiri secara umum.
Swakelola harus menjadi bagian dari proses maupun akhir perjuangan kelas. Dan di Venezuela, seperti juga di Bolivia, ia adalah satu-satunya kekuatan radikal modern yang paling advance. Basis-basis produksi swakelola akan secara spontan terbentuk begitu momen revolusioner hadir—seperti juga di Spanyol tahun 1936, Paris tahun 1871, Russia 1917 atau juga di pabrik-pabrik yang ditinggalkan di Argentina 2001 lalu—saat para pemiliknya melarikan diri mengikuti kekalahan politisnya. Pendudukan tersebut adalah sebuah liburan dari kepemilikan dan penindasan, sebuah rehat temporer dari kehidupan yang teralienasi.
Kini memang telah terbentuk organisasi-organisasi otonom seperti CTU (Committee of Urban Lands), Komite Kesehatan, Lingkar Bolivarian di berbagai distrik Caracas, kolektif-kolektif ketetanggaan, Popular Revolutionary Assembly of Coche, kelompok-kelompok afinitas penyiar dari ANMCLA dan Radio Ali Primera, Antiescualidos.com, anggota-anggota Catio TV, UTOPIA, Tupamaros de El Valle, M13-PNA, Movimiento 13 de Abril Comuneros, AIPO, para militan MOBARE, MDD, barisan muda MEP, Asosiasi Pengacara Bolivarian, Revolutionary Marxist Current, di antara lainnya. Tapi itu semua masih jauh dari cukup. Mereka harus juga belajar untuk membangun jaringan dengan mendelegasikan setiap organisasi otonom swakelola yang bergerak di berbagai sektor, mempublikasikan seluruh informasi perjuangan pekerja dan bentuk otonom organisasi yang membentuk mereka, dengan tujuan mempopularkannya.
Mempopularkan swakelola sehingga “menguasai seluruh alat produksi dan segala aspek kehidupan sosial” sebagaimana yang ditunjukkan oleh Marx, maka hal tersebut tidak hanya akhir dari pengangguran yang meliputi sebagian besar kaum muda Venezuela, tapi juga akhir seluruh aspek kehidupan orde dunia lama, penindasan spiritual maupun material dan bahkan juga merupakan pengabolisian sistem relasi tuan-hamba. Swakelola harus menjadi satu-satunya solusi bagi misteri kekuatan Venezuela, dan mereka juga harus tahu bahwa itulah satu-satunya solusi yang tersisa.
-
Articles
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- October 2011
- June 2011
- April 2011
- July 2010
- June 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- June 2008
- May 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- April 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- September 2006
- August 2006
- July 2006
- June 2006
- May 2006
- February 2006
- December 2005
- November 2005
- October 2005
- September 2005
- July 2005
- June 2005
- May 2005
- April 2005
- March 2005
-
Meta




