TEOLOGI OMONG KOSONG
–Jalur Seorang Ateis Pemikir–
“Menohok Akal, Menantang Iman!!”
“Lebih Rebel dari yang Rebel!!”
“Lebih Melawan dari yang Melawan Otoritas!!”
Prolog
Pada mulanya adalah keraguan; keraguan tentang kebenaran yang ada. Keraguan memicu keyakinan; keyakinan tentang kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran itu bersama-sama denganku dan kebenaran itu adalah aku.
Catatan Penulis
Semua yang penulis sampaikan dan mungkin Anda baca adalah semata-mata gambaran diri dan pemikiran penulis. Sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan kalangan atau konsepsi tertentu. Bukan untuk membuktikan apapun. Bukan pula untuk mempengaruhi. Tetapi bila Anda terpengaruh, itu masalah Anda!!
PENCARIAN
Sepanjang masa orang mencari sesuatu yang lebih luhur daripada dirinya sendiri, yang ada di balik semua ini; sesuatu yang kita sebut kebenaran atau tuhan, sesuatu yang (mungkin) kekal. Orang juga senantiasa bertanya: “Apa arti semua ini?” “Apakah hidup punya arti?”
Karena tidak menemukan apapun, orang merasa kecewa dan mulai mengharapkan pimpinan dari seseorang yang memberitahu mereka tentang baik atau buruk, benar atau salah. Orang-orang percaya pada yang namanya Sidharta, Juru Selamat, Nabi Akhir Zaman, Whatever!! Dengan demikian orang telah menganut suatu pola atau tata tertentu sehingga kelakuan dan pikiran mereka menjadi mekanis, dan tanggapan mereka terhadap suatu peristiwa menjadi otomatis.
Selama berabad-abad kita telah diindoktrinasi oleh guru, pemimpin, bahkan alkitab; kemudian kita puas dengan gambaran yang mereka berikan. Itu berarti bahwa hidup kita didasarkan pada kata-kata belaka dan hidup kita bersifat dangkal dan kosong.
Kita tidak orisinal. Selama ini kita hidup berdasarkan pada apa yang telah diberitahukan kepada kita. Dan saya, tapi itu dulu, juga (mungkin) Anda terpaksa menerima segalanya itu karena situasi atau lingkungan. Kita merupakan hasil dari segala macam pengaruh dan tidak ada apapun yang baru di dalam diri kita, tidak ada yang kita temukan sendiri, tidak ada yang orisinal, murni, dan jelas.
IRONI
Batin kita menjadi tidak mampu apa-apa, tolol, dan tidak peka. Sungguh ironis bahwa kebanyakan dari kita menentang tirani politik dan kediktatoran, tapi secara batiniah kita sebenarnya menerima otoritas; otoritas spiritual, segala upacara, ritual, dogma. Dan apabila kita mencoba menolak itu semua untuk berdiri seorang diri dan langsung bertentangan dengan masyarakat, maka kita bukan manusia yang pantas dihormati lagi.
Pertanyaan tentang apakah ada tuhan itu atau kebenaran atau apapun Anda menyebutnya, tidak akan pernah terjawab oleh buku, pendeta, sufi, maupun kyai. Tak seorangpun atau apapun dapat menjawab pertanyaan itu kecuali Anda sendiri. Karena itu mulailah dengan memahami diri Anda sendiri.
Maka untuk menemukan apakah sesungguhnya ada atau tidak sesuatu di balik kehidupan yang penuh kekhawatiran, dosa, dan ketakutan ini, orang harus menghadapinya dengan sikap yang lain, yang sama sekali berbeda.
TRADISIONAL VS AKTUAL
Kita diberitahu untuk melakukan ini dan itu; dilarang untuk melakukan ini dan diwajibkan melakukan itu. Kalo begini dosa dan jika begitu dapat pahala. Kita jadi terkondisi!! Pola pikir dan cara pandang kita menjadi tidak orisinal dan sangat tradisional.
Kita berharap pada sesuatu yang tidak nyata dan takut akan hal-hal yang tidak kita kenal; takut mati dan sesuatu di baliknya, takut bagaimana hari esok. Sungguh bodoh!! Inilah kehidupan kita sehari-hari yang justru penuh ketakutan dan harapan kosong. Dan setiap bentukan filsafat maupun konsepsi teologi semata-mata hanya pelarian dari keadaan yang sesungguhnya. Padahal sebenarnya keadaan tersebut harus kita hadapi secara aktual. Sama aktualnya ketika kita menyadari kita lapar atau ketika kita merasa lelah.
TEMUKAN KEBENARAN
Mari kita lihat situasi sekarang. Sepertinya orang-orang punya ‘lorong’-nya tersendiri untuk dilalui. Lorong untuk menuju kebenaran. Seorang hindu mempunyai lorongnya sendiri dan pada saat yang sama orang lain juga mempunyai lorong kristen atau lorong islam. Dan konon kabarnya lorong itu akan menuju pada ruang yang sama yang mereka namakan surga. Tapi pada kenyataannya orang-orang yang berbeda lorong tersebut bermusuhan dan saling menyangkal. Saya tidak dapat membayangkan kebenaran yang seperti itu. Saya rasa kita tidak perlu ikut-ikutan orang-orang, merasa dia berada di lorong yang benar sedangkan orang lain di lorong yang salah.
Kebenaran itu tak berlorong. Kebenaran adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang tidak terdapat dalam kuil, masjid, ataupun gereja. Dan tiada seorang pun atau konsepsi apapun yang dapat menuntun Anda kepada kebenaran.
Anda akan melihat bahwa kebenaran yang hidup ini adalah Anda sendiri, kita, yang sebenarnya!! Segala kesedihan kita, bahagia kita, kemarahan kita, canda tawa kita. Yang perlu Anda lakukan hanyalah memahaminya. Memahami sesuatu yang hidup ini dalam diri Anda, yang tidak mungkin Anda dapatkan melalui suatu ideologi, tirai kata-kata dalam alkitab, melalui konsepsi, ataupun melalui harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan.
Dengan demikian, Anda tidak bergantung pada siapa pun juga. Tidak perlu petunjuk jalan, tidak perlu guru, dan tidak ada otoritas. Yang ada hanyalah Anda, dan hubungan Anda dengan orang lain dan dunia. Ya, tidak ada apapun selain itu!!
MUTASI PSIKOLOGIS
Setelah semua yang saya sampaikan, mungkin Anda akan bertanya-tanya : Kalau begitu, memangnya kita bisa—tanpa pengaruh, tanpa bujukan, tanpa takut, tanpa rasa berdosa—di dalam hati sanubari kita, membuat revolusi total, suatu mutasi psikologis, sedemikian rupa sehingga kita tidak lagi terkondisi dan terindoktrinasi?? Sehingga kita terlepas dari segala ketakutan dan perasaan berdosa?? Hanya Anda yang bisa menjawabnya!!
Perlu saya tegaskan, saya tidak sedang merumuskan suatu bentukan filosofis ataupun konsepsi teologis paling anyar. Bagi saya semua ideologi itu tolol sekali. Yang penting bukanlah filsafat hidup, melainkan pengamatan aktual tentang apa yang sesungguhnya sedang berlangsung, baik yang ada dalam diri kita maupun di luar diri kita.
Anda dan saya mempunyai apa yang disebut cipta, rasa, dan karsa. Mari kita gunakan, kita eksploitasi, kita manage sedemikian rupa sehingga kita bahagia, batin kita selalu baru, segar, selalu muda, murni, penuh semangat dan gairah. Jangan biarkan batin Anda membusuk oleh teori-teori dan konsepsi-konsepsi bodoh ribuan tahun lalu yang sudah ketinggalan zaman.
Tadi malam turun hujan lebat, tapi pagi ini langit cerah, hari ini baru dan segar. Marilah kita songsong hari segar ini dengan penuh gairah tanpa ketakutan. Mari kita tinggalkan semua kenangan hari kemarin, dan mulai memahami diri kita sendiri untuk pertama kalinya.
Jakarta, Mei 2006
—Takeo—
arszminoru@yahoo.co.id
5 Responses to TEOLOGI OMONG KOSONG
Leave a Reply Cancel reply
-
Articles
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- October 2011
- June 2011
- April 2011
- July 2010
- June 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- June 2008
- May 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- April 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- September 2006
- August 2006
- July 2006
- June 2006
- May 2006
- February 2006
- December 2005
- November 2005
- October 2005
- September 2005
- July 2005
- June 2005
- May 2005
- April 2005
- March 2005
-
Meta





Sip! Cakep nih tulisan. Walau menurut pandangan saya ,yang pastinya subjektif, masih ada judgement di beberapa tempat. But it’s ok. Saya anggap itu adalah nilai yang kamu yakini. Ukuran yang kamu pakai dalam melihat dan mempersepsikan sesuatu. Tapi semoga nggak menjadikan kamu membakukan nilai ini juga, menjadikannya lorong seperti yang kamu sempat singgung sedikit di atas.
Anyway, saya bingung nih sama satu paragrap; yang ini:
“Dengan demikian, Anda tidak bergantung pada siapa pun juga. Tidak perlu petunjuk jalan, tidak perlu guru, dan tidak ada otoritas. Yang ada hanyalah Anda, dan hubungan Anda dengan orang lain dan dunia. Ya, tidak ada apapun selain itu!!”
Di satu bagian kamu menafikan segala hal dan kamu hanya mengakui kepastian eksistensi diri. Tapi di bagian lain kamu pun mempertimbangkan kembali relasi eksistensi dengan eksistensi lain. Sedangkan kita juga sama-sama tahu kalau hubungan sosial (yang notabene pasti terdapat pluralitas apapun di dalamnya) tidak semudah itu bisa terbangun secara kondusif bila tidak ada satu nilai umum yang dipercaya secara masif.
Well, saya tidak sedang apatis terhadap suatu bentuk dunia ‘anarki’ yang tidak membutuhkan otoritas dari luar diri sendiri. Tapi masalahnya, bukankah kita juga harus berpikir secara aplikatif dan relevan dengan keadaan yang sedang kita hadapi saat ini?
Pertanyaannya, bisakah kita mulai hidup tanpa otoritas dan tatanan nilai umum supaya teratur? Kapankah itu? Bagaimana caranya?
Sekali lagi, saya sama sekali tidak menentang tulisan kamu. Saya hanya sedang berusaha merekonstruksi nilai saya sendiri. Nilai KITA.
Terima kasih.
***
kontribusikan gagasan kamu pada kehidupan, sekarang bisa lewat http://www.maduracun.org
wah oknum..pernyataan (pribadi) di balas pertanyaan.
mencari jawaban dengan tidak membuat opini orang lain menjadi milik dirimu. terlepas dari bijaksana -mengalami sendiri proses pencariannya sendiri- tidak sumber pikiran orang yang diambil opininya.
jadi pertanyaannya bagaimana menemukan sebuah proses pencarian sedemikian panjang orang, siapun ,asal dan apa yang diyakininya. dengan melepas ‘cerita’ yang dibawanya. untuk paling tidak dibuktikan sendiri dulu kebenarannya. paling tidak seberapa banyak, dengan umur sesingkat sekarang untuk akhirnya ada yang di jadikan sumber semangat menikmati hari.
senang mendapat pemikiran bisa hidup tanpa orang lain penting untuk tahu kita bahagia tidak nya. :O
menurutku mencari harta karun itu sangat menyenangkan prosesnya.
kondisi ditulisan awal lebih ditujukan untuk mengatakan,..yuk..mari kita tidak usah ribut masalah kepercayaan, itu kan isapan jempo (nahlo salah ketik), karena kok percaya yang satu mau nya perang ma yang tidak sama..
lebih condong ke omongan, yuk cari sumber kebenaran di diri sendiri alami prosesnya dan temukan kebenaran (ini hal baik yang aku baca di opini awal).
ngomong ngomong aku juga sedang mencari.
Hai,,saya takeo, 20 tahun, creator artikel “Teologi Omong Kosong”
Terima kasih atas tanggapan saudara2,,senang rasanya ada yg peduli dengan tulisan pribadi yg iseng2 saya post ini.
Menanggapi paragraf “Dengan demikian, Anda tidak bergantung pada siapa pun juga. Tidak perlu petunjuk jalan, tidak perlu guru, dan tidak ada otoritas. Yang ada hanyalah Anda, dan hubungan Anda dengan orang lain dan dunia. Ya, tidak ada apapun selain itu!!”
Yang saya maksud dengan otoritas adalah otoritas atas diri pribadi kita, otoritas legal yang mengatur pluralitas manusia sebagai spesies sosial.
Terima kasih,
-Takeo-
Maaf,,ada kekeliruan…
Berikut pembenarannya..
“Yang saya maksud dengan otoritas adalah otoritas atas diri pribadi kita, sedangkan otoritas legal yang mengatur pluralitas manusia sebagai spesies sosial tentu saja tidak termasuk dalam otoritas yang saya ragukan”
Best Regards,
-Takeo-
Yth. mas/mbak TAKEO di tempat
Saya menghargai anda yang mungkin kurang atau bahkan tidak mengenal Tuhan. Namun kami sebagai umat Tuhan masih dan akan tetap yakin bahwa Dia akan selalu membawa kami ke “jalan yang benar”. Tuhan bukanlah sesuatu yang logis dan Tuhan juga bukanlah sesuatu yang filosofis, tetap Tuhan adalah yang ada di hati setiap orang “percaya”.
Salut atas keberaniannya, semoga anda cepat menemukan surga.