Kapitalisme : Penyebab Kemiskinan dan Pengangguran !
SELALU MENYEBARKAN KEMISKINAN
Kapitalisme berlaku bak seorang yang baik hati yang berkata, “Saya begitu cinta terhadap orang miskin, sehingga saya berpikir bahwa tidak pernah ada cukup banyak orang miskin.” Di Brazil, sistem ini membunuh ribuan anak setiap tahun akibat penyakit dan kelaparan. Dengan atau tanpa proses pemilihan, kapitalisme adalah anti demokrasi, karena mayoritas orang menjadi terpenjara oleh kebutuhan-kebutuhan.
Empat-perlima penduduk dunia ‘secara resmi’ hidup dalam kemiskinan, dan sistem ini tetap mempertahankan mereka pada posisi kemiskinan itu. Sebagian besar dari Dunia Ketiga dihambat untuk berkembang maju secara ekonomi. Negara-negara Dunia Ketiga dibuat tergantung pada bantuan dari negara-negara industri, dan kekayaan alam mereka dikering tandaskan oleh kekuatan-kekuatan imperialis ini. Pada tahun 1990, Dunia Ketiga menerima bantuan resmi sebesar 44 milyar dolar AS. Di tahun yang sama, 165 milyar dollar AS mengalir dari Dunia Ketiga ke negara-negara imperialis hanya untuk melayani pembayaran hutang luar negeri.
Teknologi dan uang yang diperlukan untuk proses industrialisasi di Dunia Ketiga dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan transnasional di negara-negara kaya. Kurang dari 700 perusahaan-perusahaan seperti ini mengontrol hampir keseluruhan produksi dunia. Untuk mengumpulkan bahan-bahan mentah dan menjual produk-produk pertanian ke negara-negara maju, ekonomi-ekonomi Dunia Ketiga harus bekerja sama dengan perusahaan transnasional yang mengambil sebagian besar keuntungan. Kemudian produk-produk jadi, yaitu barang-barang manufaktur, dijual kembali ke Dunia Ketiga.
Kontrol transnasional atas tekhnologi dan keuangan memungkinkan negara-negara maju untuk mendominasi industri manufaktur. Jika itupun tidak cukup, maka mereka dengan angkuh akan menggunakan blok-blok perdagangan dan kekuatan militer untuk memaksakan kehendak. Ekonomi Dunia Ketiga menyediakan buruh dan bahan mentah murah, dan mengkonsumsi apa yang dijual oleh perusahaan-perusahaan multinasional tersebut. Untuk tetap kompetitif, perusahaan-perusahaan itu semakin membayar murah untuk Dunia Ketiga dan menuntut harga tinggi untuk bahan-bahan jadi yang mereka produksi. Maka wajarlah yang miskin menjadi semakin miskin. Pada permulaan dekade ini, pendapatan rata-rata penduduk Dunia Ketiga hanya 6% dari besarnya pendapatan rata-rata penduduk di negara-negara imperialis kaya. Jika datang krisis ekonomi, maka mereka menggenjot persaingan yang lebih ketat demi keuntungan perusahaan, dengan menyalahkan pertambahan jumlah penduduk ‘negara paling terbelakang’. Tahun 1990, 11 negara lagi masuk kedalam daftar ini (sehingga menjadi 42 negara).
Hanya ada satu negara Dunia Ketiga tidaklah cukup. Kapitalisme perlu menyebarkan kemiskinan seluas mungkin. Dan saat ini sudah ada ‘Dunia Ketiga’ dalam Dunia Pertama.
Di Dunia Pertama yang kaya, kini semakin banyak jumlah pengangguran baru dan buruh yang diupah rendah. Di Australia terdapat dua juta orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, dan dua juta orang yang sebenarnya ingin bekerja jika bisa. Di AS, kemiskinan pada 1990an, kini kembali ke tingkat 1960an. Seperempat jumlah penduduknya hidup dalam kemiskinan; bukan hanya para penganggur. Sepertiga dari ratusan juta nagkatan kerja AS yang kuat adalah buruh yang diupah rendah, yang bertahan hidup hanya sedikit diatas garis kemiskinan resmi.
MENGHASILKAN PENGANGGURAN
Makin dan makin banyak orang menjadi miskin, karena mereka menganggur (tidak bekerja). Tetapi mengapa orang yang mencari pekerjaan tidak bisa mendapatkan pekerjaan? Tentu saja sebetulnya ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan. Ada banyak rumah, gedung sekolah, dan rumah sakit yang perlu dibangun; ada banyak pakaian yang perlu dibuat; daerah rekreasi yang perlu dikembangkan; bahan pangan yang perlu ditumbuhkan; lahan-lahan gersang yang perlu dihijaukan; dan sungai-sungai tercemar yang perlu dibersihkan. Dan tentu saja semakin banyak orang yang bekerja, semakin banyak pula yang diperlukan untuk membayar mereka, yaitu harus disediakan pula lebih banyak rumah, pangan, sandang, dan layanan-layanan lainnya. Inilah semua yang diwaklili oleh uang. Adalah tugas yang mendesak untuk menyesuaikan jumlah penduduk dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Lalu apa persoalannya ?
Diantara orang-orang yang ingin bekerja dan mesin-mesin yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan, terdapat sekelompok kecil kapitalis, yang dikenal sebagai orang bisnis (pengusaha). Usaha mereka adalah untuk menghasilkan uang. Dan anda tidak bisa menggunakan mesin yang mereka miliki, kecuali jika digunakan untuk menghasilkan uang bagi mereka. Mereka lebih memilih untuk menjalankan pabrik-pabrik mereka dengan kapasitas 50 atau 70%, untuk mempertahankan agar produk-produk yang dihasilkan tetap langka dan mereka bisa menjualnya dengan harga tinggi. Dan para kapitalis ini perlu mempertahankan adanya pengangguran agar upah pekerja bisa tetap rendah. Buruh yang berjuang untuk mendapatkan upah yang lebih baik setiap saat bisa mereka pecat, dan digantikan dengan calon buruh baru yang telah menunggu dalam antrian panjang. Kapitalisme tidak bisa membiarkan buruh bangunan pergi bekerja, dan membangun rumah cukup untuk semua orang.
Pengangguran adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam sebuah masyarakat yang didasarkan atas pencarian keuntungan. Tujuan utama dari produksi bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, melainkan untuk memproduksi secepat mungkin dan semurah mungkin. Dengan cara ini, perusahaan-perusahaan bisa memaksimalkan keuntungan mereka di pasaran.
Dalam perjalanan prosesnya, kapitalisme memproduksi terlalu banyak: terlalu banyak pangan, terlalu banyak pakaian, terlalu banyak gedung, terlalu banyak mebel, dst. Kemudian ‘mau tidak mau’ mereka harus mengalami krisis untuk melepaskan diri dari perusahaan-perusahaan yang paling tidak mampu bersaing, dan menggenjot perolehan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan lainnya. Dan kita harus menanggung itu semua dalam bentuk dipotongnya upah buruh dan standar hidup yang semakin rendah.
Persoalannya bukanlah bahwa buruh memproduksi lebih banyak dari yang dibutuhkan, melainkan lebih banyak dari yang bisa dijual untuk mendapatkan keuntungan. Ini menyebabkan tekanan agar harga turun, yang mengancam perolehan keuntungan bagi kapitalis lainnya. Dan ketika para kapitalis tidak bisa menjual produk-produk mereka dengan harga yang menghasilkan keuntungan, maka mereka akan memotong produksi. Memotong produksi berarti mereka hanya membutuhkan sedikit buruh.
Tekhnologi baru juga berarti pengangguran. Bukan karena mereka memang begitu seharusnya, namun ditangan para kapitalis, tekhnologi bukan digunakan untuk membuat semua orang bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit untuk mendapatkan bayaran yang sama, melainkan digunakan untuk menurunkan beban upah yang harus dibayarkan kepada para buruh.
17 Responses to Kapitalisme : Penyebab Kemiskinan dan Pengangguran !
Leave a Reply Cancel reply
-
Articles
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- October 2011
- June 2011
- April 2011
- July 2010
- June 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- June 2008
- May 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- April 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- September 2006
- August 2006
- July 2006
- June 2006
- May 2006
- February 2006
- December 2005
- November 2005
- October 2005
- September 2005
- July 2005
- June 2005
- May 2005
- April 2005
- March 2005
-
Meta





Artikel yang sangat menarik, lalu menurut anda sistem seperti apa yang harus dipakai guna mensejahterakan masyarakay dunia?
aku setuju sama kalian!!!! untuk yang nanya sistem apa yang harus dipakai, mungkin kalo aku tahu aku sudah tidak miskin lagi… sori kalo gua sembarang omong…makasih
bagusss tapi adabaiknya kasih solusi kongrid… brafoo to u and i love u idea but ihate capitalizem + PANCASILA IDEOLOGI junk!!!!!!!!
Kemiskinan terjadi akibat sistim pembagian penghasilan yang diperoleh usaha pemerintah untuk didistribusikan kepada rakyatnya tidak adil dan tidak merata, serta orientasi pengelolaan alam/wilayah yang masih bersifat konsumtif (tidak produktif). Banyak tanah yang tidak difungsikan/dikelola dengan baik, akibat dari perubahan satus/hukum kepemilikan dan orientasi tanah yang tidak jelas pemanfaatanya. Sebetulnya alam Indonesia telah memberikan berlimpah ruah aneka ragam hayati yang dapat di ubah menjadi uang (tidak untuk dimakan/konsumtif). Banyak tananman yang bernilai eksport; contoh tanaman pala, tanaman cenkeh, tanaman, rempah rempah untuk industri yang diluar tanaman pokok (untuk dimakan). Jika Belanda telah memanfaatkan alam Indonesia selama 350 tahun dan dapat mendirikan kerajaan yang tidak punya wilayah daratan dapat mengubah/membendung laut, untuk dibuat daratan, dari mana uang mereka?. Dari itu kita dapat belajar; pemerintah dalam hal ini meninjau tentang status tanah yang tidak jelas pemanfaatnya, jika kita bersama-sama mau memanfaatkan alam dengan baik niscaya alam ini akan
lestari, kemakmuran akan datang sendiri tidak perlu import macem-macam tapi kita bisa ekspot yang sa emoh emohe. ok….
Kemiskinan terjadi akibat sistim pembagian penghasilan yang diperoleh usaha pemerintah untuk didistribusikan kepada rakyatnya tidak adil dan tidak merata, serta orientasi pengelolaan alam/wilayah yang masih bersifat konsumtif (tidak produktif). Banyak tanah yang tidak difungsikan/dikelola dengan baik, akibat dari perubahan satus/hukum kepemilikan dan orientasi tanah yang tidak jelas pemanfaatanya. Sebetulnya alam Indonesia telah memberikan berlimpah ruah aneka ragam hayati yang dapat di ubah menjadi uang (tidak untuk dimakan/konsumtif). Banyak tananman yang bernilai eksport; contoh tanaman pala, tanaman cenkeh, tanaman, rempah rempah untuk industri yang diluar tanaman pokok (untuk dimakan). Jika Belanda telah memanfaatkan alam Indonesia selama 350 tahun dan dapat mendirikan kerajaan yang tidak punya wilayah daratan dapat mengubah/membendung laut, untuk dibuat daratan, dari mana uang mereka?. Dari itu kita dapat belajar; pemerintah dalam hal ini meninjau tentang status tanah yang tidak jelas pemanfaatnya, jika kita bersama-sama mau memanfaatkan alam dengan baik niscaya alam ini akan
lestari,kemakmuran akan datang sendiri tidak perlu import macem-macam tapi kita bisa ekspot yang sa emoh emohe. ok….
Kemiskinan terjadi akibat sistim pembagian penghasilan yang diperoleh usaha pemerintah untuk didistribusikan kepada rakyatnya tidak adil dan tidak merata, serta orientasi pengelolaan alam/wilayah yang masih bersifat konsumtif (tidak produktif). Banyak tanah yang tidak difungsikan/dikelola dengan baik, akibat dari perubahan satus/hukum kepemilikan dan orientasi tanah yang tidak jelas pemanfaatanya. Sebetulnya alam Indonesia telah memberikan berlimpah ruah aneka ragam hayati yang dapat di ubah menjadi uang (tidak untuk dimakan/konsumtif). Banyak tananman yang bernilai eksport; contoh tanaman pala, tanaman cenkeh, tanaman, rempah rempah untuk industri yang diluar tanaman pokok (untuk dimakan). Jika Belanda telah memanfaatkan alam Indonesia selama 350 tahun dan dapat mendirikan kerajaan yang tidak punya wilayah daratan dapat mengubah/membendung laut, untuk dibuat daratan, dari mana uang mereka?. Dari itu kita dapat belajar; pemerintah dalam hal ini meninjau tentang status tanah yang tidak jelas pemanfaatnya, jika kita bersama-sama mau memanfaatkan alam dengan baik niscaya alam ini akan lestari,kemakmuran akan datang sendiri tidak perlu import macem-macam tapi kita bisa ekspot yang sa emoh emohe. ok….
Kemiskinan terjadi akibat sistim pembagian penghasilan yang diperoleh usaha pemerintah untuk didistribusikan kepada rakyatnya tidak adil dan tidak merata, serta orientasi pengelolaan alam/wilayah yang masih bersifat konsumtif (tidak produktif). Banyak tanah yang tidak difungsikan/dikelola dengan baik, akibat dari perubahan satus/hukum kepemilikan dan orientasi tanah yang tidak jelas pemanfaatanya. Sebetulnya alam Indonesia telah memberikan berlimpah ruah aneka ragam hayati yang dapat di ubah menjadi uang (tidak untuk dimakan/konsumtif). Banyak tananman yang bernilai eksport; contoh tanaman pala, tanaman cenkeh, tanaman, rempah rempah untuk industri yang diluar tanaman pokok (untuk dimakan). Jika Belanda telah memanfaatkan alam Indonesia selama 350 tahun dan dapat mendirikan kerajaan yang tidak punya wilayah daratan dapat mengubah/membendung laut, untuk dibuat daratan, dari mana uang mereka?. Dari itu kita dapat belajar; pemerintah dalam hal ini meninjau tentang status tanah yang tidak jelas pemanfaatnya,
jika kita bersama-sama mau memanfaatkan alam dengan baik niscaya alam ini akan lestari,kemakmuran akan datang sendiri tidak perlu import macem-macam tapi kita bisa ekspot yang sa emoh emohe. ok….
sekarang kita hidup dalam zaman munafik,ketika pemilu 2004 para calon presiden mengeluarkan puluhan milyar atau mungkin ratusan milyar yang dikeluarkan untuk demi sebuah kekuasaan selama 5 tahun,mayoritas dana itu diperoleh dari para cukong2 hitam.dana yang mereka keluarkan harus dibayar ketika mereka menjabat menjadi presiden.tak ada cara lain membayarnya selain harus korupsi(umar,musni.demokrasi di indonesia,kemenangan kaum abangan dan priyayi).gimana klo kita kontrak aja muhattir mohammad(eks pm malaysia)buat mimpin bangsa indonesia.abis presiden sekarang jago bullshit semua.
Schopenhauer: “hidup adalah kehendak” dan kehendak itu adalah sebuah ketidak sampaian!! ketidak sampaian itu penyiksaan!! makanya kita harus membunuh kehendak- kehendak yang ada dalam diri kita!!”
tapi manusia punya kehendak untuk hidup!, itu masalahnya!!!
kita mahluk sosial, dan populasi kita ju lahnya milyaran!! semuanya mau jadi NO. 1. you have to be a number one? setiap orang di Amerika udah ditanamkan pikiran kaya gitu dari kecil!! dan mereka adalah negara maju!
itu adalah contoh tahap perkembangan manusia dari zaman primitif berkembang menjadi masyarakat modern hingga post modern!!! nanti juga semua manusia kaya gitu!! kalo percaya sama kiamat!!
jadi kita harus pikirin!! apakah kita berkembang menjadi semakin pintar atau justru sebaliknya? semakin bodoh dan siap menyambut kiamat!!
itu evolusi, siapa yang bisa menghindar?
jadi mo nyalahin yang kalah bersaing???? dan menganggap mereka bodoh???
artikel yang sangat bagus.
bisa memberi wacana tentang bagaimana situasi sekarang ini,sehingga kita bisa mengertii
setuju….kapitalisme emang biang dari kemiskinan!!!!!!
tapi,bukannya sekarang udah imperialism(kapitalisme monopoli)?
demokrasi yang paling nyata adalah cuba . sebab negri ini satu satunya negara yang bisa menerima semua ide serta ideologinya . sehingga komunis bisa di terima baik oleh warga negaranya . dan di cuba tak akan pernah terlihat individu yang terkaya dan yang termiskin , karena tidak ada undang undangnya . dan merekapun faham bener bahwa tanah , air ,udara dan sumber daya alamnya adalah hak mereka .
Perlu diingat bahwa dampak sosial dari kemiskinan dan pengangguran itu sendiri lebih buruk dibandingkan dampak ekonominya itu sendiri yang pada akhirnya akan mengganggu kestabilan ekonomi secara mikro maupun makro.
Sistem syariah yang tepat untuk memajukan perekonomian Indonesia yang sebab sudah jelas bahwa Allah tidak akan merubah suatu kaum jika tidak sendiri kita yang merubahnya dan Rasul bersabda bahwa kefakiran itu mendekatkan pada kekufuran.
Jika di dunia ini menghayati firman-Nya dan sabda Rasul-Nya di atas, saya yakin semua elemen di dunia ini akan sejahtera.
Kalau menurut saya salah satu penyebab kemiskinan di Indonesia adalah masalah mindset. Sebagai contoh ambil kasus orang tua saya. Orang tua saya berprofesi sebagai petani di desa dengan luas lahan sekitar 1,5 bau. Jika lahan itu sekarang dijual maka akan didapat uang sekitar 600-700 juta. Sebuah jumlah yang lumayan. Jika uang 600-700 juta itu dimasukan ke bank dengan bunga anggap sekitar 10% per tahun maka ortu saya bisa menikmati uang sekitar 60-70 juta / tahun dengan ongkang-ongkang kaki. Tapi??? Apa yang terjadi selama puluhan tahun??? Ortu saya selalu menggarap lahan itu sendiri dengan ditanami tembakau, jagung, dan padi. Kalau dihitung rata-rata hasilnya per tahun mungkin hanya sekitar 30-40 juta bersih! Jadi bisa dikatakan setiap tahun ortu saya “merugi” sekitar 20-30 juta yang kalau menurut saya bukan jumlah yang kecil. Aneh kan? Ditambah lagi ortu saya meski harus membantu para pekerjanya di lahan jadi masih harus keluar keringat. Maklum sekarang susah sekali mencari buruh yang mau kerja di lahan. Udah gitu masih harus keluar uang buat para pekerja, pupuk, benih, peralatan, dll, dan tak jarang uang itu dipinjam dari bank atau rentenir dengan bunga 30-40% per tahun. Belum lagi ditambah di rumah masih harus bertengkar karena kecapekan habis kerja di lahan. Jadi semestinya dengan digarap sendiri ortu saya seharusnya bisa menikmati laba hingga 100 juta per tahun. Anehnya dengan digarap sendiri malah gali lobang tutup lubang terus dari saya masih kecil hingga sekarang saya sudah memiliki anak besar.Udah berapa puluh tahun itu?? Coba bayangkan berapa total kerugiannya??
Saya sudah sering mencoba menjelaskan kepada mereka mengenai hal ini tapi mereka seperti tidak bisa “memahami” apa yang saya sampaikan dan saya cuma bisa mengambil kesimpulan kalau mindset merekalah yang menjadi barrier kemajuan mereka sendiri. Bahkan tak jarang kalau mereka lagi butuh duit lantas mengambil duit saya dan akhirnya duit saya amblas ikut dimakan “tanaman” mereka.
Penyebab lainnya juga adalah tidak mau menghargai kerja keras orang lain. Di tempat saya buruh tani cuma dihargai Rp 20 ribu-25 ribu/hari. Kebetulan saya punya kenalan seorang teman pemilik toko buku. Dia bercerita suatu malam dia pernah ketemu ama pengamen yang lagi mampir di tokonya mau menukar uang. Si pengamen ini bercerita jika dalam 2-3 jam dia bisa meraih pendapatan Rp 50 ribu jadi dalam 1 hari bisa diraup Rp 100-200 ribu. Gila enggak? Yang peras keringat cuma dapat sedikit sementara yang cuma gonjrang ganjreng enggak jelas malah dapat banyak? Wajar jika pertumbuhan jumlah orang malas makin meningkat di negeri ini. Wajar juga jika pertumbuhan jumlah pengamen, pengemis, dan anjal terus naik. Gobloknya lagi ada tetangga saya kalau ngasih pengamen murah hati banget. Masak dia kasih pengamen Rp 5000 sekali nyanyi beberapa menit? Padahal buruhnya aja cuma dikasih Rp 20 ribu kerja keras seharian.
Untuk sompret.
TOLOL ente.
u pikir bunga bank itu apa???? itu prediksi inflasi kang??? kliatanya aja duid u nambah tp sebenernya g sebanyak yg ente duga.
emang kyakx u bukan orang ekonomi. ane maklum lah…
soal buruh, ane percaya dy pasti bilang, “Miskin2 gini saya masih punya malu.” dr pada pengemis bahkan pejabat2 kita, “Kaya2 gitu “kemaluan”nya kecil.”
Sory klo agak keras.
Salam damai sejahtera